-- oleh ROSS SHIELD RENTI BELLINDA -- Seorang perempuan BIASA yang terbiasa BISA --
Rabu, 05 Februari 2014
PEMBATAS ALKITAB
Natal
tahun 2013 kemaren menjadi natal yang berbeda dengan natal-natal saya
sebelumnya. Mengapa saya berkata demikian? Well, karena pada natal tahun 2013
kemaren saya menjadi Koordinator Seksi Acara. Woww, kenaikan pangkat yang
begitu drastis setelah sebelumnya hanya menjadi anggota Seksi Konsumsi.
Awalnya
saya sangat khawatir bagaimana saya dapat membuat acara dan pernak-pernik yang
akan saya suguhkan dalam perayaan natal SPP/R GKE Hosianna. Perasaan galau
menghantui saya selama 3 bulan setelah terpilih, saya tidak punya pengalaman
apa-apa, saya hanya junior dan sangat-sangat muda untuk memimpin para anggota
SPP/R GKE Hosianna yang senior dan sudah kuliah. Saya apa? Saya hanya anak
ingusan, anak SMA, anak sore kemaren. Saya berharap waktu dapat terulang dan
hal itu tak terjadi.
Seiring
berjalannya waktu saya mulai sadar bahwa saya begitu dan mungkin sangat-sangat PENGECUT. Beribu hujatan dari otak dan
kepala saya berkelakar melawan saya, “Kok gitu aja mau menghindar? Udah SMA masih
cemen!! Dasar CEMEN!!! PENGECUTT!!”
Dan
mungkin kepengecutan saya itu juga yang membuat semangat saya bangkit
untuk membuktikan bahwa saya bukan seorang PENGECUT.
Setelah 1 bulan saya melamun gaje dan
galau dengan apa yang harus saya
lakukan akhirnya saya putuskan untuk mencoba walaupun dengan langkah getir dan
terseok-seok. Saya berdoa dan berharap apa yang saya lakukan dapat memberikan
yang terbaik untuk Tuhan, Gereja dan sesama.
Berkat
kepengecutan saya akhirnya saya dapat
menjalankan tugas saya walaupun tidak sesempurna yang saya bayangkan. Dan berikut
saya posting PEMBATAS ALKITAB yang sudah saya buat dengan aplikasi CORELDRAW,
PHOTOSCAPE, dan POWERPOINT.
| PEMBATAS ALKITAB |
| PEMBATAS ALKITAB |
| PEMBATAS ALKITAB |
Dan berikut saya sertakan Tata ibadah Natal kami yang saya buat
Dan percayalah MUJIZAT itu nyata, cobaan yang diberikan pasti ada jalan keluarnya. Yakinilah setiap perbuatan yang kamu lakukan dengan doa dan memohon penyertaan Tuhan kita Yesus Kristus.
(KOLOSE 3:12)
(KOLOSE 3:12)
"Jangan seorangpun menganggap engkau rendah
karena engkau muda. Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam
perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu, dan dalam
kesucianmu."
1
TIMOTIUS 4:12
Sabtu, 11 Januari 2014
Don't look the book from cover
Hari berganti hari,
bulan berganti bulan, dan tahun berganti tahun.
Waktu berjalan begitu cepat dan tak
terasa sudah hampir
3 tahun saya lewati di
sekolah ini, di
SMA Negeri 2
Palangkaraya, sebuah sekolah di kota tengah hutan, seperti kata guru saya Pak Rudy
Hilkya. Banyak kenangan yang telah saya lalui termasuk kenangan saat diajar
oleh Pak Rudy Hilkya.
Pak Rudy Hilkya adalah
salah satu guru Fisika di SMA Negeri 2 Palangkaraya.
Beliau mengajar saya
atau lebih tepatnya kelas saya dari
kelas XI–sekarang
(XII). Tak hanya mengajar, beliau
juga mendidik. Banyak pelajaran dan motivasi yang saya dapat dari beliau.
Disela-sela waktu mengajarnya, beliau tak lupa dan tak henti-hentinya memberi
kami wejangan, motivasi, pola pikir baru, dan pelajaran akan makna hidup yang
sebenarnya.
Hidup adalah
sebuah anugerah yang harus disyukuri. Hidup yang diberikan oleh Tuhan kepada
kita di dunia ini memiliki maksud dan tujuan tertentu. Untuk mengerti maksud
dan tujuan tersebut kita harus belajar. Dan itulah yang diajarkan oleh beliau,
Aku belajar
untuk memenuhi keinginan Tuhanku yang hendak menjadikan Aku manusia sebagaimana
rencana-Nya, menjadi manusia yang sempurna, paripurna, manusia seutuhnya, adil
dan beradab, selamat di dunia fana dan akhirat.
(cuplikan DOA
SEBELUM BELAJAR)
Saya akui pada awalnya
saya takut kepada beliau. Mengapa? Karena saat saya kelas X banyak desas-desus tentang
beliau yang saya dengar dari kakak kelas saya. Banyak yang bilang beliau
orangnya killer dan selalu memberi
tugas yang bejibun banyaknya.
Sehingga saat saya kelas X saya sudah takut duluan padahal kenal dan berjumpa
pun belum.
Saat masuk ke
kelas XI saya sempat kaget sekaligus penasaran karena yang mengajar saya pelajaran
Fisika adalah beliau. Saya ingin membuktikan sendiri berita yang saya dengar
tentang beliau. Apalagi saat itu ada teman sekelas saya yang dimarahi sampai
diam dan seolah-olah ingin menangis padahal dia seorang laki-laki. Memang
beliau banyak memberi kami tugas berupa permainan dan teka-teki namun seiring
berjalannya waktu saya sadar, yang dilakukan oleh beliau adalah mendidik kami
untuk menjadi orang yang tahan banting dan optimisme.
Namun dibalik
itu semua, beliau orang yang humoris dan serupa
dewa. Mengapa saya berkata demikian? Pernah ada suatu kejadian, teman sekelas
saya berselisih paham mengenai pemberian nilai ngamen Seni Budaya kepada adik kelas saya. Teman saya tak setuju
nilai yang sudah ia berikan diganti tanpa sepengetahuannya, namun teman saya
yang lainnya menganggap itu hal yang sah-sah saja. Rupanya hal itu diketahui
oleh beliau padahal teman saya tidak ada mengatakan kejadian itu kepada
siapa-siapa hanya orang-orang tertentu saja yang tahu. Beliau pun menasehati
kelas kami dan berkata bahwa tidak baik jika teman sekelas berselisih paham dan
kita harus saling menghormati dan menghargai pendapat orang lain. Setelah pelajaran
beliau, kami pun saling meminta maaf satu sama lain. Lewat beliau lah kami
dapat rukun kembali.
Menurut saya,
beliau patut dijadikan teladan. Teladan dalam mengajar, teladan dalam mendidik.
Tak salah jika beliau dinobatkan menjadi guru SMA favorit se-Kalimantan Tengah
tahun 2004.
Akhir kata saya
ucapkan terima kasih dan janganlah menilai orang dari luarnya saja tapi cermati
dan kenalilah seseorang itu baik-baik sebelum memberikan penilaian. Jangan
mengulang kesalahan seperti yang pernah saya lakukan terhadap beliau.
Berikut alamat website beliau:
Blog
Twitter
Berikut alamat website beliau:
Blog
PERTAMA KALI BERTEMU
Pertama kali bertemu ku selalu ingat dirimu
Meski hanya dalam angan kau selalu terbayang
Enggan ku melupakanmu karena ku mencintaimu
Meski hanya dalam mimpi hiasi tidurku
Hanya
dirimu kasih buatku bahagia
Meski kau
telah berdua ku kan menanti
Hadirmu
selalu membuatku tabah
‘tuk
menjalani semua derita
Meski kau
telah berdua dan berlalu
Namun ku
‘kan berdoa selamanya untukmu
Senyummu
selalu terbayang hiasi hariku
Meski
terkadang perih menusuk kalbu
Hanya harap
dan doa moga engkau bahagia
Lagu ini
tercipta hanya untukmu, sayang
Setiap
dengar lagu ini, aku selalu teringat seseorang. Seseorang yang mungkin sudah
melupakanku meskipun aku selalu menunggunya dari SMP sampai sekarang. Meskipun aku
selalu mencarinya dan berharap suatu saat menemukannya namun secercah harapan
tidak juga kutemui.
Terkadang
semua terasa sia-sia ketika rasa hampa dan perih mulai merasuk dan memaksaku
unuk menyerah. Untuk apa selalu menunggunya? Untuk apa? Kenapa tak cari yang
lain? Aku tak tahu. Mungkinkah dia kembali dan menemuiku? Aku pun tak tahu,
hanya waktu yang akan menjawab.
Aku
cuma berharap dan berdoa semoga dia akan bahagia di sana. Bahagia, walaupun
bukan denganku. Kuatkanlah aku, Tuhan.
Aishiteru honey. :)
CERPEN: MALAIKAT HATIKU
MALAIKAT HATIKU
Karya Ross
Shield Renti Bellinda
Sungguh aneh. Setelah sekian lama kita
berpisah dan aku selalu mencoba menampismu dari hidupku dan menganggap kamu tak
pernah ada tapi ternyata rasa cinta itu masih ada dan selalu ada untukmu.
Setiap malam dalam setiap tidurku selalu terlintas wajahmu yang tersenyum
lembut dengan kata-kata yang selalu hangat dan ramah yang keluar dari mulutmu kepada
semua orang dan setiap nasehatmu yang bijak dan menopang tanpa ada kata
menyalahkan.
Kamu seperti malaikat, malaikat yang
diutus Tuhan untuk menjagaku. Menjaga tingkahku dengan setiap nasehatmu yang
bijak, menjaga hatiku dengan kata-kata cinta yang kau ucap, menghiburku dengan
tingkah dan kata-katamu yang lucu dan menggoda, dan bersamaku ketika semua
orang meninggalkanku dan menyudutkanku.
Masih
saja teringat dalam memori ini, semua moment yang sering kita lewati berdua.
Kamu yang selalu menyambutku setiap pagi di kelas, yang selalu tersenyum
kepadaku setiap pagi, dan menelponku setiap malam. Saat aku sendiri di kelas,
ada kamu yang selalu ada untuk membuang rasa sepi dan jenuhku. Cerita-cerita
lucumu yang kadang tidak nyambung dan
terkesan aneh selalu membuatku tertawa. Suarumu yang merdu dan teduh membuatku
selalu merindukanmu.
Kamu
masih saja sama seperti dulu, 6 tahun yang lalu sebelum kamu pergi
meninggalkanku. Disini, seorang diri. Kamu berjanji akan kembali dan aku masih
menunggunya sampai sekarang. Tahukah engkau?
Malaikatku,
aku sangat merindukanmu. Rindu menyentuh tanganmu yang lembut dan hangat, yang
menggenggamku dikala aku jatuh dan tak sanggup berdiri. Malaikatku, kamu memang
nakal selalu membuntutiku kemanapun aku pergi saat di sekolah. Mengintipku saat
aku sedang memilih buku di perpustakaan. Aku rindu saat kamu melemparkanku
surat dan memaksaku untuk membalasnya. Apakah kamu ingat surat yang kau tulis
kepadaku,
Aku bagaikan bintang yang paling bersinar dimalam gelap diantara jutaan
bintang di langit. Aku bagaikan pelangi yang selalu ada untuk menghapus dukamu.
Dan aku
membalasnya,
Kamu memang bintang yang paling bersinar, kamu memang pelangi dan lebih
indah dari pelangi di langit. Kamu seperti malaikat, malaikat yang dikirim
Tuhan untuk menemaniku danmenjagaku setiap saat dalam suka dan duka.
Saat
itu selesai membaca surat itu kamu menoleh kepadaku dan tersenyum manis, sangat
manis, yang tak bisa aku lupakan hingga saat ini. Dan kita malah asyik main
surat-suratan sampai ditegur guru dan di ejek teman-teman sekelas. Kamu memang
nekat, semua sedang fokus belajar kamu malah menggodaku dan selalu melakukan
tingkah konyol untuk menarik perhatianku. Dan parahnya aku terjebak pada
magnetmu dan tidak bisa melepaskan diri.
Malaikatku
jika waktu bisa diulang, aku ingin kembali disaat-saat aku masih memilikimu. Di
saat kamu memintaku untuk menemuimu di bawah pohon depan sekolah. Aku ingin
mengulang dan memperbaiki semuanya. Harusnya aku datang saat itu tapi aku malu,
malu kenapa? Aku tak tahu.
Malaikatku,
aku sangat menyayangimu. Tapi rasa sayang itu sangat menyiksaku ketika tiada
kau lagi, ketika kau hilang entah kemana. Malaikatku apa kau masih ingat ketika
pertama kali kau bilang kepadaku,
“Aku gak tau kenapa, tapi aku menyukaimu. Aku sayang kamu.”
“Aku juga sayang kamu.”
“Iya, janji ya kamu bakal nunggu aku kembali?”
“Iya, aku janji.”
Bertahun-tahun sudah kulewati sendiri
tanpa ada titik terang untuk hubungan kita selama ini. Aku memang munafik. Aku
mengingkari hadirmu tapi aku selalu mencari hadirmu. Malaikatku maafkan aku
jika mencoba menghapusmu dari benakku, jika aku mencoba mencari penggantimu.
Hari itu setelah penantian panjang
yang kujalani, aku menemukanmu tapi engkau tidak mengenalku. Aku hanya bisa
melihatmu dari jauh. Aku tak bisa menjangkau ataupun mendengar suaramu.
Keterbatasan ruang dan waktu menghalangiku.
Malaikatku, aku tahu kamu sudah
melupakanku dan menganggapku “mantan” dan rasa sayang itu hanya ada dulu
untukku. Aku tahu disana kamu sudah menemukan penggantiku. Mungkin memang
benar, aku bukan jalan dan takdirmu.Tapi malaikatku, tahukah engkau aku bahagia
melihatmu bahagia walau ada rasa perih dalam hati ini ketika kata-kata cinta
itu kau ucapkan juga kepada wanita lain.
Malaikatku, kamu memang selalu
membahagiakanku tapi kini kamu membuatku terluka. Tahukah engkau? Malaikatku.
Malaikatku. Ya, kamu memang malaikat apapun yang terjadi. Malaikat yang gagah
perkasa namun lembut dan penyayang seperti namamu, Michael. Kamu memang
malaikat, malaikat hatiku untuk hari ini dan selamanya.
***
Palangkaraya,
09 Januari 2014
PUI-PUI, PAI-PAI, HITAM
Dulu, saya mempunyai 3 ekor kucing.
Bukan kucing ras yang harganya berjuta-juta hanya kucing dari kalangan bawah
yaitu kucing kampung. Saya memungut mereka dari tempat sampah.
Ceritanya begini.
Sekitar
pukul 20.00 WIB saya pulang dari Gereja Kanaan mengikuti ibadah KPR GKE
se-Resort Hilir. Waktu itu langit mendung dan gelap, tidak ada satu bintang
pun. Saat saya melintas di tempat pembuangan sampah, saya mendengar suara anak
kucing. Saya mencarinya dan menemukan mereka bernaung di bawah tanaman serai
dekat tempat sampah. Mereka masih kecil dan begitu lemah. Awalnya saya tak mau
mengambilnya karena ibu saya tak suka kucing. Tapi semakin lama saya mendengar
meongan mereka saya semakin iba dan tak sanggup jika meninggalkan mereka disana.
Bagaimana jika mereka kehujanan dan mati kelaparan? Beribu pertanyaan selalu terngiang di pikiran saya. Dan
akhirnya, saya putuskan untuk mengambil mereka dan membawanya pulang. Saya
membungkus mereka dengan jaket yang saya pakai.
Malam semakin larut dan hujan turun membasahi
saya dan kucing baru saya. Memang ini awal pertama saya memelihara kucing
setelah sekian lama memelihara anjing dan hamster. Sepanjang jalan saya
mengahadapi polemik yang begitu menyiksa, bagaimana kalau mamah marah dan
membuang mereka, bagaimana saya merawat mereka, bagaimana saya memberi mereka
makan, apa yang harus saya lakukan. Saya bingung dan tak tahu harus apa, namun
saya putuskan apa yang sudah saya lakukan sekarang tak akan saya sesali di
kemudian hari.
Hujan
makin lebat dan saya semakin basah kuyup, namun saya senang karena kucing baru
saya tetap hangat dan kering di bungkusan jaket hujan saya. Mereka tertidur
pulas, dan saling mendekap satu sama lain sedangkan saya sendiri dalam hujan
malam yang semakin deras mengguyur bumi. Perjalanan pulang ke rumah semakin
dekat, apa yang harus saya lakukan sekarang? Saya putuskan untuk mencari kotak
dan memberi mereka makan. Sesampainya di rumah saya memasukkan mereka ke kotak
dan memberinya makan seperti yang saya rencanakan semula. Mereka makan dengan
lahap, saling berbagi satu sama lain.
Malam
makin larut dan hujan semakin mendera, Palangkaraya, hati dan pikiran saya.
Perlahan-lahan sayup-sayup bulir-bulir mimpi menghinggapi dan melarutkan semua
kenyataan dan menenggelamkannya di alam bawah sadar sampai sang mentari pagi
membawanya kembali. Pagi yang indah,
pagi yang cerah, secerah wajah-wajah kucing baru saya yang masih terlelap di
dalam kotak mie instan ditemani kain lusuh.
Memang
awalnya ibu saya menentang keinginan saya untuk merawat mereka, tapi saya
bersikeras dan tak mau membuang mereka. Sedikit demi sedikit saya mencoba
melunakkan hati ibu saya dan perjuangan yang panjang itu berbuah manis, ibu
saya akhirnya merestui saya memelihara mereka dengan satu syarat saya harus merawat
mereka baik-baik. Bahkan ibu saya kerap menggantikan saya memberi mereka makan
jika saya lambat pulang dari sekolah.
Setelah
1 minggu mereka di rumah saya, saya putuskan untuk membuat tempat baru untuk
mereka. Sepulang sekolah saya mencari kayu-kayu bekas yang ada di sekolah saya
karena saat itu sekolah saya sedang direhap. Setelah saya rasa cukup, saya
membawanya pulang dan membuat sebuah kotak yang bisa dibilang sangat sederhana
dan tak layak untuk dibilang sebuah kandang. Kandang yang menyerupai kotak dengan
kayu-kayu lapuk disisinya. Di dalam kandang tersebut saya letakkan kain untuk
alas tempat tidur mereka bertiga. Sekali seminggu saya cuci dan saya ganti. Mereka
kucing-kucing yang pintar dan tak pernah membuat masalah. Saya sangat sayang
mereka.
Setiap
hari saya memberi mereka susu sebelum dan sesudah pulang sekolah, sampai-sampai
saya harus bangun lebih pagi dari biasa dan sering terlambat masuk sekolah.
Untuk memberi mereka susu saya mengorbankan uang jajan saya karena tak mungkin
untuk meminta uang lebih dengan kedua orang tua saya. Sedangkan penghasilan
orang tua saya pas-pasan untuk membiayai saya dan 4 saudara saya yang lain. Ini
keputusan saya untuk memelihara mereka dan memang setiap keputusan yang diambil
harus dapat dipertanggung-jawabkan apapun yang terjadi.
Hari
berganti hari dan bulan berganti bulan, kucing saya semakin besar dan sehat.
Mereka begitu manja dan kerap mengelus-elus kaki saya. Apalagi Si Pui-Pui,
kucing yang paling besar dan gendut sangat suka menggoda saudara-saudaranya
yang lain. Ia mengganggu mereka saat tidur dan menggigit-gigit telinga
saudara-saudaranya. Namun tidak dengan Si Hitam, kucing yang paling kecil dia
tak suka menggoda yang lain dan kerjanya hanya tidur dan makan. Walaupun begitu
saya sayang pada mereka semua.
Si
Pui-Pui sangat suka mandi dan tak terlalu takut air, jika saya mandikan dia
cuma diam dan memeong-meong. Sedangkan Si Pai-Pai dan Si Hitam, ya ampun mereka
sangat sulit dimandikan, selalu mencakar-cakar saya dan selalu mencoba
melarikan diri. Mereka memang kucing kampung namun bagi saya mereka sama
seperti kucing ras lainnya, sama-sama kucing yang butuh kasih sayang dan
menerima majikannya apa adanya. Yang membedakan mereka dengan kucing
“mahal-mahal” cuma bulu dan bentuk fisik mereka.
Si
Pui-Pui yang sering saya panggil si gendut memiliki mata biru yang indah,
sedangkan Si Pai-Pai dan Si Hitam mempunyai mata keabu-abuan. Begitu cemerlang.
Indah.
Mereka
kucing-kucing yang penurut, saat tiba waktunya untuk tidur pada malam hari
mereka akan masuk kotak yang saya buat dan tidur disana. Pada saat siang hari
mereka akan tidur di pot bunga depan pintu rumah saya. Untuk masalah BAB,
mereka tak pernah BAB di rumah meskipun mamah saya selalu menuduh mereka BAB di
rumah jika mereka masuk ke kamar saya dan bermain bersama saya. Mereka tak
senakal itu, mereka akan BAB di tanah samping rumah saya dan menguburnya
dalam-dalam.
Tak
terasa mereka semakin besar dan sering bermain-main di halaman rumah saya,
kejar-kejaran, sembunyi-sembunyi, dan saling menerkam di antara pot-pot bunga
yang besar dari tubuh mereka. Banyak anak-anak di sekitar rumah saya yang
memperhatikan tingkah lucu mereka. Kadang ada yang jahil dan melempar mereka
batu. Ya ampun, saat itu saya sangat marah karena bagi saya setiap makhluk
hidup yang diciptakan oleh Tuhan tidak pantas mendapat perlakuan semena-mena
seperti itu. Tuhan memberikan mandat kepada kita, manusia, untuk menjaga,
memelihara, dan mengembang-biakkan makhluk ciptaan lainnya (hewan/binatang,
tumbuhan) bukan malah menyiksa mereka. Menurut saya jika seseorang memelihara
hewan (binatang) dan menyiksa mereka, orang itu tidak memiliki prikemanusiaan
dan tidak pantas jika ia ingin memelihara binatang, memperlakukan bintang saja
semena-mena dan tak becus bagaimana jika ia meperlakukan manusia? Walau
bagaimanapun saya tegaskan tugas kita merawat dan memelihara semua ciptaan Tuhan
seperti yang sudah Tuhan mandatkan bukan malah menyiksa.
Malang
tak dapat ditolak, untung tak dapat diraih. Kucing saya Si Gendut Pui-Pui
hilang untuk yang kedua kalinya. Saya resah dan mencarinya namun tak
ketemu-ketemu. Memang dulu Si Pui-Pui dan Si Pai-Pai si kembar belang kuning
hilang namun berhasil saya temukan di sebelah rumah tetangga saya, mungkin
saking asyiknya main kejar-kejaran sampai lupa mereka jalan pulang. Kasihan
saat itu mereka basah kuyup dan kedinginan, saya mengeringkan mereka dan
mendekapnya. Mereka cuma diam dan tertidur pulas sama seperti Si Hitam yang
selalu tidur di pot bunga dari rotan saya.
Saya
sangat sedih Si Pui-Pui hilang, selama seminggu saya selalu mencarinya terus
dan terus. Namun mungkin memang sudah takdirnya, saya tak pernah menemukannya
lagi, saya cuma berharap orang yang mencurinya dari saya memperlakukannya lebih
baik dari apa yang saya lakukan. Si Pai-Pai dan Si Hitam pun sepertinya juga
sangat kehilangan setelah kepergian Si gendut Pui-Pui, mereka tak lagi main
kejar-kejaran. Saat siang mereka lebih banyak tidur dan tak seceria dulu. Si
Pai-Pai sekarang badannya makin menyusut seperti Si Hitam, makanannya tak ia
habiskan seperti dulu lagi. Saya bingung, saya harus bagaimana, namun saya
berjanji dalam hati saya harus merawat mereka supaya tetap ceria seperti dulu
tanpa Si Pui-Pui, nama pemberian adik saya Joan kepada mereka. Pui-Pui suatu
saat kembalilah. :’)
Malang,
memang malang. Setelah kepergian Si Pui-Pui, Si Pai-Pai dan Si Hitam ikut
menghilang. Saya tak habis pikir, tega sekali orang mencuri mereka dari saya.
Saya memang bukan orang kaya yang bisa membeli susu dan makanan mahal setiap
saat untuk mereka, namun dengan keterbatasan saya, saya mencoba untuk tetap
memelihara mereka dengan baik. Sungguh tega dan keterlaluan.
Saya
sangat berharap saya bisa menemukan mereka kembali, saya sangat menyayangi
mereka dan saya benci pada orang yang sudah mencurinya. Mencuri, bukan mencuri lagi
tapi lebih tepatnya merampas. Saya tak menduga, hari itu hari terakhir saya
memanjakan mereka. Hari terakhir saya melihat mereka tertidur pulas dalam pot
rotan saya. Hari terakhir mereka tidur di samping saya, hari terakhir mereka
mengelus kaki dan tangan saya, hari terakhir saya melihat mata mereka yang
indah dan bening, hari terakhir mereka menyambut saya pulang dan hari terakhir
mereka menyambut saya di depan pintu dengan meongan dan tingkah mereka yang
menggemaskan. Mungkin menyedihkan tapi apa mau dikata, nasib memang nasib, tak
dapat ditolak, tak dapat dibuang, tak dapat dihindari. Namun saya berharap,
siapapun yang menjadi majikan mereka, memperlakukan mereka dengan baik dan
tidak menyiksa ataupun memperlakukan mereka semena-mena. Kucing-kucingku jika suatu saat kalian
menemukan jalan pulang, pulanglah kepadaku, kembalilah. Aku sangat merindukan
kalian. Sayonara Pui-Pui endut, Pai-Pai manja, dan Hitam tukang tidur. Aku
sayang kalian. :)
KEKONYOLAN LIBURAN
Hei teman-teman yang ada diseluruh
Indonesia dan dunia, selamat pagi!
Maaf ya saya jarang posting, lagi
banyak tugas #alasan, hehe. Hampir lupa, met natal n tahun baru juga ya, moga
di tahun yang baru ini pembaharuan iman kita makin teguh, dan segala yang kita
cita-citakan dapat terwujud. :)
Oh, iya hampir lupa, gimana liburan
kalian? Rame gak? Kalau aku sih biasa-biasa aja dan sangat sangat sangat KONYOL.
Biasa-biasa gimana? Kalo biasa-biasa kok konyol? Mau tahu ya? KEPO ihh, hehe. Ngomong-ngomong,
saya bicarain apa yah dari tadi, gaje banget kayanya. #plak.
Ya udah, daripada kalian penasaran
mending aku ceritain aja ya. :)
Setelah 5 hari selesai pembagian
raport tanggal 21 Desember 2013 bertempat di SMA Negeri 2 Palangkaraya, saya
pergi ke Pulang Pisau, berlibur di tempat nenek saya Budha (sebelah Jalan
Penggilingan, yang banyak pohon mangganya depan rumah, tetangga indu Doni).
Saya disana sampai tanggal 3 Januari karena tanggal 6 Januari udah sekolah.
Lalu?
Oke, oke, saya lanjutkan.
Selama di sana kerjaan saya cuma
makan, tidur, kerja dan nonton. Membosankan bukan? Tidak ada yang menarik. Tapi
semuanya berubah semenjak Negara Api menyerang #plak, itu Avatar :D
Lalu konyolnya apa?
Suatu siang yang panas dan terik
saat nenek dan bue saya sedang tidur, kira-kira pukul 13.00 WIB, kami diam-diam
menghidupkan DVD dan memutar kaset film horror punya Olong (SUPRIADI). SAYA, adik saya (RIBKA/Ribka Teresa Juniasi, ADIT/Jonathan
Aditya, JOAN/Joan Marko Antang) dan
sepupu saya (DEDE/Firsta Uli Nova, SINTA/Sinta Bajentania Antang, OLIVIA, VIA/Alvia Yohana Antang, EGA/Alvino
Barega Antang) serta ADAW dan tak
lupa OLONG cuma duduk diam di lantai
sambil memegang bantal yang siap-siap digunakan untuk menutup muka saat ada
adegan-adegan yang mengerikan #hehe. Film horror demi film horror kami tonton
dan film terakhir yang kami tonton sore menjelang malam itu adalah Film
Insidius 1.
Saking ketagihannya kami nonton
film Insidius, kami rela mengobrak abrik setiap dagangan penjual kaset. Namun
sayang, usaha kami berbuah sia-sia. Tak ada kaset Film Insidius 2. Akhirnya
kami putuskan untuk membeli kaset FILM THE WOMAN dan 1 nya lagi saya lupa
judulnya.
Film The Woman bener-bener film
yang sadis, dan horror. Kanibal banget boo. Ngeriii cinnn.
Tak hanya sampai disitu, ekpedisi
kami terus berlanjut. Demi mengumpulkan uang untuk membeli bakso dan kaset kami
merapikan gudang nenek. Untuk apa? Untuk mencari barang bekas yang akan kami
jual. Sempat ada niat buruk untuk menjual cobek-cobek nenek saya, dan membolongi
panci dan rinjingnya dengan paku. Namun tidak jadi karena rugiiiii ciinnn dan
takut di omelin bue #hehe, cucu yang berbakti. Dan kami hanya menjual
botol-botol FANTA, setrika rusak, gelas AQUA, kardus, stang sepeda, AKI, dan
terompet #hehe. Lumayan lah dapat duit.
Rencananya uang itu akan kami
belanjakan 2 hari lagi pada hari Kamis karena setiap hari Kamis di Pulang
Pisau, ada pasar dadakan yang dinamakan Pasar Kamis. Pasar itu buka dari pagi
sampai pukul 11.00 WIB. Saya dan sepupu saya yang bernama Dede (Firsta Uli
Nova) pagi-pagi itu juga pergi ke pasar mencari kaset film INSIDIUS 2 dengan
berbekal uang di kantong cuma Rp10.0000. Setelah bersusah payah mengobok-obok
dan menghambur-hambur dagangan orang, kami pun berhasil mendapatkan kaset
tersebut. Saking gembiranya kami pulang dan cepat-cepat hidupin DVD dan TV.
Semua sepupu dan adik-adik saya yang ada di rumah langsung duduk diam di depan
TV sambil memegang bantal dan guling sambil menahan nafas.
TE….TE…TE…TE….TE….TENENGGG.
Tiba-tiba kasetnya ceket dan
semuanya bilang “YAHHHH, MARAM!!!!!!!”.
Dengan langkah lunglai dan kesal
kami kembali ke paman penjual kaset, pengennya sih marah-marah. Masa baru beli
udah ceket-ceket gitu, mindahin ke film lain gak bisa. Sesampainya disana kami
langsong menyodorkan kaset tersebut dan memasang muka cemberut.
“Kenapa kasetnya, ding?”, tanya
pamannya.
“Kasetnya rusak, diputar malah
ceket. Gimana tu?”, jawab kami sewot
“Sini.”
Beberapa saat kemudian,
“Ni kasetnya bisa ja, gak ada
segala rusak.”
“Tapi tadi ceket mang ai”, jawab
kami gak mau ngalah.
“Kasetnya ni hanyar, disini kawa
ja. Mun kada kasetnya yang rusak, DVD kam yang rusak”, kata pamannya.
“Ya kah? Lalu gimana?”
“Ambil ja di situ gantinya.”
“Yang itu ada lagi lah?”
“Cari ja situ.”
Kami pun mengobok-obok lagi jualan
penjual kaset tersebut dan akhirnya menemukan kaset yang sama seperti yang
sudah kami kembalikan tadi.
Sesampainya di rumah, kaset baru
tersebut kami putar lagi dan ternyata memang DVD kami yang rusak. Ya ampun,
kami 2 malu sekali. Ngembaliin kaset orang yang kami anggap rusak padahal DVD
kami yang rusak. Aduh, konyol sekali.
Mungkin bagi Anda yang sedang
membaca ini tidaklah terlalu konyol, tapi jika Anda merasakan seperti yang saya
rasakan pasti terasa sangat sangaat sangaaat konyol.
Akhir kata, saya ucapkan terima
kasih atas perhatian dan partisipasinya rela datang ke blog saya yang sangat
sangat sangat sangat sangat sangat sangat sangat sederhana ini. Terimakasih.
Hehe :)
Langganan:
Postingan (Atom)