Selasa, 14 April 2015

Bisakah kamu memahamiku?

Pagi ini, seperti biasa ku jalani dengan amat sangat biasa dan jauh dari kata sempurna. Hari ini juga tepat kedua kalinya di php dosen, padahal harusnya hari ini sudah uts kimia dasar 2.

Pagi ini juga hati ini masih dibayangi rasa bersalah dan galau. Galau karena kalkulus, galau karena IP, galau dan galau, apalagi galau karena cinta. Lagi lagi cinta, lagi-lagi cinta. Entahlah kenpa kini jadi kaya anak abg yg baru kenal asam asin pahit manisnya cinta, jadi abg labil.

Ngomongin cinta, hari ini aku ngerasa bahagia dan sedih. Bahagianya karena bisa bertemu kamu, tapi sedihnya kamu terlalu asyik sendiri. Kamu terlalu asyik sama dunia kamu, aku masih kaya orang luar, orang dari planet bumi, dan kamu orang dari planet mars Semakin hari kusadari kita semakin berbeda, tapi aku selalu mencoba menyangkalnya. Ku pikir mungkin ini perasaanku saja, karena sekarang aku diserang wabah galau merana karena cinta.

Kadang aku senang kamu menyimpan fotoku di hp mu, tapi kadang aku sedih karena di hatimu bukan cuma aku. Kadang ku pikir aku cuma pelampiasan sesaat, cuma halte tempat menunggu seseorang. Kadang pula ku rasakan cemburu ketika ada foto wanita lain di hpmu. Tapi aku bisa apa? Menghapusnya? Tidak, aku bukan perempuan seperti itu. Untuk apa aku harus menghhapusnya jika kamu aja masih menyimpannya, gak perlu aku membuangnya, karena pasti kamu akan mencarinya.

Ku pikir semua ini seperti permainan, kadang ku pikir pula ini seperti lomba lari, lomba siapa yang tetap bertahan, siapa yang akan behenti. Entah apakah aku yang akan tetap bertahan untukmu atau kamu yang akan tetap bertahan untukku dan memilihku. Semua menyita energi bahkan perasaan, ketika harus bertahan dan di pertahankan.

Hari ini aku sengaja tak menengurmu saat kamu pamit  pulang, aku sengaja tak melihatmu saat kamu akan pergi. Ya aku sengaja. Entah perasaan apa yang ku rasakan kala itu, yang aku tahu itu hanya perasaan sedih. Ya, aku sedih. Dan alasannya, tak perlu kamu tahu. Cukup aku.

Saat kamu pergi aku tak mau menengokmu, aku hanyua diam dan berharap kamu akan tinggal sebentar lagi dan tak melepas genggaman tanganku. Kenapa kamu selalu melepas genggaman tanganku? Bagaimana jika suatu saat aku berhenti dan memilih tak menggenggam tanganmu lagi? Apakah kamu akan merindukan saat-saat aku selalu menggenggamnya tapi kamu selalu melepasnya?

Ku pikir, aku salah jika selalu menahanmu untuk pergi. Ku pikir pula aku terlalu egois dan mwmwntingkan diriku sendiri. Aku tak mau menyakiti hatiku, tapi aku menyakiti bajkan mengorbankan hatimu. Kadang aku terlalu munafik dengan hatiku dan tak bisa menerima kesalahan yang telah ku buat. Aku tahu ini semua salahku, akulah biang keroknya.

Banyak cara Tuhan menghadirkan cinta di hidup ini, mungkin kamu adalah salah satunya. Kamu adalah cinta yang diberikan Tuhan untukku, tapi kenapa kamu harus datang disaat yang tidak tepat. Kamulah yang sekarang aku perjuangkan, iya, kamu. Tapi ku pikir kenapa aku begitu menyakitimu? Apakah aku memang harus melepasmu dan membiarkanmu pergi memilih cinta yang lain?

Tak dapat ku ingkari, aku menyayangimu. Makin hari perasaan itu makin dalam, dan tak mungkin aku akhiri. Ya, aku tak bisa memilih dan aku takut untuk memilih aku takut untuk mencoba, dn aku takut untuk kehilangan. Terserah lah aku menjadi orang munafik yang hanya mementingkan dirinya sendiri, karena kini aku pun sudah munafik dengan membohongi diriku sendiri.

Kesedihan itu, masih saja membayangiku. Tak bisa aku singkirkan dan semakin menjadi. Aku tak ingin kau berlalu karena semuanya semakin indah namun semakin menyakitkan. Aku seolah memeluk kaktus, semakin erat, semakin dalam, maka aku akan semakin terluka. Kenapa kamu tidak memelukku balik? Agar luka ini semakin dalam dan besar, agar aku dapat menyatu denganmu?

Apa yang harus ku lakukan? Bagaimana membuatku dapat memahamimu dan bagaimana caranya agar kamu dapat memahamiku? Ketika aku menggenggam tanganmu, aku hanya ingin agar kamu tetap disini, disampingku, selamanya. Seperti lagu vierratale,
"Aku takut kamu pergi, kamu hilang, kamu sakit, aku ingin kau disini, disampingku, selamanya."

Apakah kita akan tetap bersama? Apakah kamu akan tetap disampingku? Aku harap iya, tapi jika itu tidak terjadi maka aku akan menerimanya, karena mungkin itu yang terbaik untukmu dan untukku.

Senin, 13 April 2015

Apakah cinta memang harus memiih?

Harus bagaimana lagi, harus ku mulai darimana? Apa yang akan ku lakukan? Kenapa begitu sulit untuk ku memilih? Andai kamu tahu, kamu begitu berarti untukku.

Malam ini, ada perasaan aneh yang tiba-tiba mengusik ku lagi. Sebuah perasaan yang meminta kepastian, yang mana yang harus ku pilih. Jujur, aku tak bisa memilih yang mana yang harus ku pilih, mereka sangat sangat berarti untukku, tapi kamu lebih berarti untukku.

Aku tak mungkin memilih dia dan meninggalkan kamu, tapi aku juga tak bisa memilih kamu dan meninggalkan  dia. Andai badan ini bisaa dibagi aku pasti bisa memiliki kalian.

Malam ini pula hati ini semakin perih dan begitu tersiksa. Apakah memang cinta itu harus memilih dan tak boleh mendua? Apa jadi nya jika hati ini telah mendua dan tak bisa memilih untuk memiliki dan dimiliki siapa?

Andai kamu tahu aku begitu menyayangimu dan dia kamu memang yang baru tapi kamu begitu membekas di hatiku, kamu membuat semuanya begitu indah dan begitu berarti, kamu memang istimewa dan tak bisa aku lepaskan. Tapi dia, dia yang meninggalkannku juga begitu aku sayangi, dia juga membekas di hatiku karena dia sudah begitu lama di hatiku.

Malam ini seperti lagu fatin - aku memilih setia, seperti liriknya
"Andai saja diriku ini masih sendiri pasti ku kan meilih kan memilihmu."
Ya, andai saja kamu datang lebih awal dan disaat yang tepat pasti kita akan menjadi satu dan tidak seperti ini.

Kamu sadar gak sih, kita tu kaya sepatu, pengen selalu bersama, tapi kita gak bisa bersatu.
"Kita adalah sepasang sepatu selalu bersama tak bisa bersatu. Kita mati bagaintak berjiwa bergerak karena kaki manusia".
Ya, kita selalu berjalan bersama, beriringan, tak bisa melepaskan, tak bisa meninggalkan. Tapi sayangnya kita tak bisa bersatu.

Tuhan, kenapa kami harus bertemu jika akhirnya dipisahkan? Kenapa kami harus bersama jika akhirnya tak bisa menyatu?

Andai saja kau tahu aku begitu menyayangimu.
Terlalu indah dilupakan, terlalu sedih dikenangkan.

Ketika semua berubah

Entah harus di mulai dari mana ini semua. Tiba-tiba saja menjadi seperti ini. Kesalahan fatal yang ku perbuat tapi tak mungkin bisa aku lepaskan begitu saja. Aku mencintainya, seperti aku mencintaimu.

Semua bermula dari facebook. Saat itu dia mengirimkan permintaan pertemanan kepadaku. Entah kenapa aku menerimanya dan menghapus pertemanan dengan yang lain karena facebook ku pertemanannya sudah mencapai maksimal. Kemudian beberapa hari setelah itu ku posting pin BBM ku, dan ia pun beserta teman yang lain mengirimkan undangan pertemanan. Aku pun langsung menerimanya tanpa pikir panjang akan jadi seperti apa semua ini.

Hari hari telah berlalu, bulan pun telah berlalu, tiba-tiba dia yang kita sebut saja sebagai AFE menghubungiku atau kata lain nya mengechat ku di BBM menanyakan tugas Kalkulus karena katanya aku jurusan matematika. Aku tak dapat menolak karema sifatku yang susah untuk mengatakan kata tidak ketika orang lain meminta bantuan. Aku membantunya dan kami mun mulai chattingan satu sama lain. Semuanya sangat biasa dan normal.

Keesokan harinya aku membuat status 'LAPAR' dan dia pun mengomentarinya. Dan ku tanggapi hanya biasa saja karena banyak juga yang selalu mengomentari statusku seperti dia. Namun tiba-tiba aku menjadi tertarik mengobrol dengan dia ketika dia katakan bahwa kami pernah bertemu semasa SMP, 6 tahun yang lalu.  Jujur,  aku sempat kaget dia masih mengingatku dengan jelas dan mencari tahu siapa aku ini. Aku begitu tersanjung karena aku begitu berarti dimatanya. Semenjak hari itu kami pun semakin dekat dan sering mengobrol.

Dia begitu dan sangat membuatku nyaman, sifatnya sangat mirip aku dan kami pun seperti anak kembar saja. Entahlah kenapa bisa seperti itu. Iapun merasakan hal yang sama. Ia juga merasa nyaman dan betah di dekatku. Ia mau menerima keadaanku yang seperti ini dan mau memakluminya.

Hingga suatu ketika, saat hari jumat aku dan teman-temanku (rany, titin) mengerjakan tugas kalkulus ditempat norin sehabis bahasa inggris karena siangnya tugas tersebut akan dikumpul. Saat kami hendak ke kampus siangnyua, cuaca mendung dan akan turun hujan. Kami pun bergegas pergi sebelum kehujanan. Rany dan titin berangkat duluan ke kampus, sedangkan aku berangkat terakhir karena mau membeli polpen titipan temanku di jalan k.s tubun.

Saat pergi ke jlan k.s tubun, hari mulai gerimis dan semakin dingin. Entah apa yg kupikirkan kala itu, ku letakkan dompet kelinciku kenang-kenangan dari teman sma ku, kiky, di kantong jaketku. Padahal dompet itu takpernah ku letakkan di sembarang tempat, karena dompet itu begitu berarti untukku.

Saat sampai di kampus, baru ku sadari dompet itu jatuh, aku panik dan mau menangis, aku tak tau harus berbuat apa. Aku mau mencarinya tapi jika aku mencarinya maka aku tak ikut mata kuliah kalkulus hari  itu sehingga saat itu aku hanya pasrah saja. Aku pun menceritakan nya kepada titin, rany dan Afe. Ku katakankepada mereka bahwa dompet itu begitu berarti.

Selesai kalkulus, Afe mengajak ku bertemu di PUSKOM, sebelah gerbang UNPAR. Aku pun kesana dan aku tak percaya dompet yang hilang itu ada dengannya. Aku begitu terharu saat tau dia hujan-hujan mencarinya untukku, aku tak tahu harus berkata apa lagi. Baru sekali ada orang yang begitu memperhatikanku, hati ini mulai aneh jika bertemu dengannya. Ada sesuatu yang lain dari biasanya, perasaan yang berbeda dari yang dulu. Dulu aku menganggap dia sebagai kakaku, tapi kini berbeda, lebih dari itu. Aku btak tahu kenapa bisa begini, semakin hari aku menyayanginya. Aku mulai mencintainya dalam diam, aku mulai memperhatikannya dengan sembunyi-sembunyi, aku begitu bahagia saat dia ada di dekatku. Memang dia tak begitu tampan dari semua lelaki yang mendekatiku, tapi aku tak peduli, dia begitu istimewa, dan aku sangat menyayanginya.

Terima kasih karen sudah ada di sampingku, terima kasih karen selalu setia menemaniku. Aku menyayangimu.

... Bersambung ...