Sabtu, 02 Januari 2016

Mencintai dalam diam

Setelah sekian lama rehat dari urusan tulis menulis selama beberapa bulan, hari ini entah kenapa ada sesuatu yang memaksa untuk terus keluar dan keluar. I dont know why.


Hari ini atau lebih tepatnya subuh ini, seorang teman bertanya, apakah kamu rela jika cintamu dibagi tiga? Entah apa yang ia pikirkan sehingga menanyakan hal tersebut sepagi dan setidak cerah hari ini. Bagaimana ya menjawab pertanyaan begini?

Mungkin jawabannya, aku tak mau jika cintaku dibagi tiga atau dibagi berapapun. Cinta itu seperti bilangan, 1 lebih baik dari 1/2 atau 1/3 atau 1 per berapapun dan 1 lebih sempurna dari 1/2 atau 1 per berapapun.

Pertanyaan balik, kenapa cinta harus dibagi? Menurutku cinta itu harus absolutely, harus sempurna dan harus utuh. Sesuatu yang utuh akan lebih berarti daripada sesuatu yang dibagi-bagi.

Lalu apakah cinta itu harus setia? Jawabannya harus dan itu mutlak. Cinta itu sesuatu yang suci dan akan lebih bermakna jika iapun setia. Jika ada yang berkata bahwa ia ingin membagi cintanya dan akan berlaku adil, sepertinya itu hal yang mustahil.
"Tidak ada satu orangpun yang mampu membagi cintanya dengan adil, karena jika ia adil ia tidak akan membagi cinta." - Mario Teguh.

Bagaimana jika kamu mencintai seseorang yang sudah membagi-bagi cintanya? Seperti jawaban awalku tadi, aku tak suka sesuatu yang dibagi, aku menuntut sesuatu yang utuh, sesuatu yang sempurna dan hanya satu. Jika aku mencintai orang yang selalu membagi-bagi cintanya mungkin yang dapat kulakukan adalah mencintainya dalam diam. Aku tak akan menuntutnya untuk mencintaiku ataupun membalas cintaku. Aku lebih memilih mencintainya dalam diam, tanpa kata, tanpa suara, tanpa balas.

Lebih menyakitkan untuk mencintai seseorang yang hatinya bukan hanya untukmu. Bagaimana mungkin menuntut seseorang seperti itu untuk dapat mencintaimu? Yang harus kamu lakukan hanya mengikhlaskan dia bersama orang lain, dan tak menuntut balas akan cintamu karena ia tak akan mampu mencintaimu sepenuhnya.

Mencintai dalam diam bukan berarti menyrrah ataupun kalah. Mencintai dalam diam lebih tepatnya ikhlas dan mengikhlaskan. Terkadang sesuatu yang kita cintai, inginkan dan harapkan tidak sepenuhnya harus menjadi milik kita. Jika ia lebih bahagia bersama orang lain, maka biarkan, jangan ditahan. Cinta itu tak harus memiliki, saat ia bahagia dengan pilihannya maka doakan ia agar dapat lebih bahagia. Cinta itu harus tulus.

Cinta dalam diam lebih banyak memberi bukan meminta. Seseorang yang mencintaimu akan lebih peduli padamu, ia akan tahu apakah kamu kurang makan, kurang tidur atau pun sedang sedih. Mungkin ia akan selalu mengingatkanmu dan memang hanya itu yang dapat ia lakukan. Ia sadar ia bukanlah bagian terpenting dari hidupmu dan tak mungkin dapat menuntut banyak. Jangan marah ataupun kesal jika ada yang berlaku demikian padamu, karena suatu saat mungkin kamu akan mencarinya dan sangat sangat membutuhkannya. Karena orang yang tepat untuk kamu berlabuh saat sedih, patah hati dan lelah hanyalah orang yang mencintaimu dalam diam, tanpa kata, tanpa balas. :)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA :)