Rabu, 09 Januari 2013

SELAMAT ULANG TAHUN


 
“Kenapa? Aku gak bisa lama-lama.”
“Nanti dulu”, jawabnya sambil duduk di rumput mengatur nafas.
“Selamat ulang tahun.”
Hanya itu yang bisa ia ungkapkan setelah berlari-lari menuju kemari sampai membuat kakinya lecet dan terluka.
“Oh. Terus?”
“Ini”, katanya sambil mengeluarkan sebuah kotak kecil dari kantong jaketnya. “Aku cuma mau kasih ini. Ya udah aku pulang.”
“Ya.”
“Hmm, aku boleh lewat depan rumah kamu gak?”
“Duhh, jangan. Banyak tamu di rumahku. Merepoti ja.”
“Cuma lewat ja. Aku takut lewat sana.”
“Siapa suruh malam-malam kesini.”
“Maaf. Bolehkan? Aku takut lewat sana. Jalannya gelap. Sepi.”
“Lewat ja. Ingat. Cuma lewat.”
“Iya, makasih sayang.”

Laki-laki itu pergi tanpa membalas kata-katanya. Gadis itu hanya diam dan terus memandangnya sampai menghilang di balik bangunan bercat putih itu. Hening. Kini, ia merasakan kelelahan yang amat sangat. Ia langsung terduduk kembali. Langit begitu mendung dengan angin yang menusuk kulit. Perutnya terasa nyeri, tangannya bergetar, ia begitu kehausan. Apa yang harus aku lakukan, pikirnya.

Jam sudah menunjukkan pukul 20.49 WIB
Tak terasa sudah 2 menit ia diam tanpa melakukan apa-apa. Aku harus pulang, pikirnya. Dengan kekuatan yang masih tersisa ia segera berdiri dan berjalan walau agak sempoyongan dengan sebuah lengkungan kecil di raut wajahnya. Di dalam hati, ia begitu bahagia karena sudah bertemu dengan kekasih yang sangat ia rindukan dan dapat memberikan kado ulangtahun walau terlambat 1 hari dari hari ulang tahunnya. Sebenarnya ia ingin memberinya kemaren tapi laki-laki itu menolak bertemu dengannya karena merayakan ulang tahun bersama teman-temannya.

Kado ulangtahun itu begitu sederhana namun begitu special. Ia teringat perjuangan yang ia lakukan untuk membelinya. Ia bahkan rela tak jajan sebulan. Semuanya ia lakukan hanya untuk membuat kekasihnya bahagia. Ia sadar walaupun ia selalu mencoba ia tak mungkin bisa membahagiakan kekasihnya, berwajah elok tidak, memiliki harta pun tidak, ia penuh dengan kekurangan dan kelemahan. Perbedaan mereka bagaikan langit dan bumi. Dan kini, ia tahu ia telah melakukan kegilaan lainnya yang membuat dirinya makin terlihat bodoh dan tak berarti di depan kekasihnya.

Kini ia sampai di ujung gang. Gang itu buntu dan hanya bisa dilewati  setelah menyeberangi parit kecil yang merupakan halaman belakang rumah kekasihnya. Dengan hati-hati ia melangkah. Sayang keluarlah, katanya dalam hati sambil melirik ke motor yang berjejer di depan rumah. Jangan, aku cuma bikin kamu malu kalo kamu keluar, hardiknya dalam hati membatalkan keinginannya. Sayang aku pulang. Selamat malam. Aku sayang kamu.

Di tengah jalan pulang, ia masih merasakan nyeri di perutnya. Wajar saja, ia tak ada makan sejak siang dan begitu kehausan. Uang di kantong pun tak ada. Aku harus pulang, pikirnya sambil mempercepat langkahnya. Harus. Dan langit pun mulai membisu.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

TERIMA KASIH ATAS KOMENTARNYA :)